Kamis, 18 Agustus 2011

Rotten Corpse

ROTTEN CORPSE ; FIRST BLOOD AND CURSED


Ini epos tentang Rotten Corpse, sebuah legenda brutal death asal Malang yang pertama kali mempresentasikan nada-nada ekstrim kepada khalayak metal Indonesia. Kisah nyata band lokal yang membuka jalan penuh cadas dan melesat tinggi dalam waktu singkat. Namun juga penuh duri tajam serta konflik berkepanjangan. Ngotot bertahan tapi akhirnya seperti diselimuti kutukan. Jika itu sebuah kenangan dan seribu pelajaran, maka simak sedikit catatan kisah mereka. A legendary maggots. This is the ultimated classic!...

"Awalnya pada tahun 1994 cikal bakal Rotten Corpse adalah sekedar band session aja. Waktu itu saya udah malang-melintang bikin band ini-itu, dengan genre yang ini-itu juga. Sementara saya nge-fans banget sama band-nya Adyth, Orchestration Foolish. Band temen deket yang saya anggap paling oke, paling rapi di antara semuanya," jelas Aryev Gobel ketika mengingat kembali dari mana kisah epik metal ini harus dimulai.


Dia lalu melanjutkan ceritanya, "Si Adyth lah yang pertama kali nawarin bikin band session itu. Kita pengen coba main di genre metal yang lebih berat dan berisik. Setelah melalui tahap adaptasi personel, kita sepakat untuk serius dan band session ini dinamai Disgorged dengan formasi awal ; saya di vokal, Adyth dan Wawan di gitar, Upik di bass, dan Anton di drum."


Berbagai proses dilalui, hingga akhirnya pada pertengahan Juni 1995 mereka dengan mantap mengubah nama band itu menjadi Rotten Corpse. Gitaris Adyth [eks Orchestration Foolish], vokalis Aryev Gobel [eks Abstain], gitaris Wawan [eks Lunatic Asylum], bassis Upick [eks Orchestration Foolish], dan drummer Anton [eks Lunatic Asylum] tampak cukup antusias untuk mengibarkan bendera brutal death metal di tanah Malang.

Sejarah mencatat, Orchestration Foolish dan Abstain merupakan dua band metal yang sering tampil dalam berbagai event festival musik garapan Gemma [Generasi Musisi Muda Malang] di rentang tahun 1992 - 1995. Sedangkan Lunatic Asylum adalah proyek band death metal bentukan trio Adyth, Wawan dan Anton - yang seingat penulis hanya sempat manggung satu kali di kampus Unibraw dengan mengusung lagu-lagu kover milik band metal Austria, Disastrous Murmur.


Begitu resmi terbentuk, Rotten Corpse langsung tancap gas berlatih di studio dan berawal dari mengkover lagu-lagu milik Cannibal Corpse, Suffocation, hingga Broken Hope. Tidak lama, Adyth dkk mulai berani tampil di sejumlah gigs, parade band dan berbagai event musik kampus yang ada di Malang.


Sebagai band baru, pada masa itu mereka musti rela membayar biaya pendaftaran untuk manggung. Di setiap pentas, Adyth dkk juga kerap membawa suporter setia - yang notabene adalah temen-temen dekat mereka sendiri. Rotten Corpse sempat menggemparkan event Singosari Open Air, di mana Anton berhasil menyabet gelar 'Drummer Terbaik' dan dapat trophy sebagai kenang-kenangan. Weird?!...


Pada akhir tahun 1995, Upick terpaksa cabut karena pekerjaan dan posisinya digantikan oleh Didik, pemuda pendiam asal Nganjuk hasil rekomendasi dari Afril [Extreme Decay]. Menyusul tak lama kemudian Wawan juga keluar dari Rotten Corpse, dan membentuk grup band Adzab yang beraliran black metal. Mulai saat itulah formasi Rotten Corpse menjadi empat orang dengan menyisakan Adyth yang sendirian di sektor gitar, sekaligus sebagai mastermind yang mengelola materi musik dan karir band.

Di awal tahun berikutnya, Rotten Corpse coba merilis demo pertama yang mereka beri titel Maggot Sickness. Demo yang direkam selama dua jam secara live-track di studio Oase itu justru jadi momentum penting bagi langkah karir Rotten Corpse selanjutnya. Rekaman demo itulah yang memancing banyak reaksi kekaguman serta efek positif dari berbagai scene musik cadas di Indonesia. Dan nama Rotten Corpse makin sering disebut serta mulai hangat dibicarakan...


"Itulah kuncinya," cetus Aryev Gobel. "Demo rekaman yang berkualitas minim banget itu sempat dibawa ke Bandung yang kala itu merupakan kota sejuta harapan bagi semua band underground. Demo itu diperkenalkan pada komunitas di sana dan bisa menunjukkan bahwa Malang, kota kecil yang tidak begitu mencolok mempunyai satu monster yang sanggup memporak-porandakan pasar underground. Dan itu memang terjadi!..."


Akibat demo sederhana itu Rotten Corpse akhirnya diundang ke Bandung untuk tampil di salah satu konser cadas yang sangat monumental, Bandung Underground #2 di gedung Saparua, 21 Juli 1996. Dengan bersemangat sang vokalis kembali berujar, "Show pertama kita di Bandung itu memang luar biasa. Kita sanggup membuat mereka tercengang. Kita sanggup memposisikan Rotten Corpse menjadi monster yang sangat mengerikan di kalangan underground Indonesia!"


Tak ayal, nama Rotten Corpse langsung melesat dan mulai menjadi 'national-highlight' bagi pencinta musik ekstrim di negeri ini. Sepekan kemudian, tepatnya tanggal 28 Juli 1996, Adyth dkk menjadi headliner pada ajang Parade Musik Underground di gedung YPAC, Malang. Di sini Rotten Corpse kembali menjadi bintang dengan performanya yang nyaris sempurna.


Puncaknya mulai terjadi pembicaraan antara Rotten Corpse dengan Hariyanto a.k.a Mas Harry dari HR Production [produsen kaos yang berdomisili di Surabaya] yang ingin memproduksi debut album Adyth dkk. Mas Harry sepakat bikin label metal independen dengan nama Graveyard Production, dan mengontrak Rotten Corpse sebagai artis band pertamanya. Dia juga yang bertindak sebagai manajer band kebanggaan arek Malang tersebut.


Akhirnya pada bulan November 1996 Rotten Corpse menjalani proses rekaman selama lima hari penuh di studio Natural [Surabaya] dengan produser Mas Harry dan dibantu Irwan sebagai sound engineer. Proses rekaman mereka saat itu terbilang cukup mewah dan fenomenal bagi kalangan komunitas metal. Sebab Adyth dkk mulai meninggalkan gaya live-recording dan berani menggunakan sistem track-recording untuk mendapatkan hasil rekaman yang maksimal. Metode rekaman seperti itu masih jarang digunakan oleh kebanyakan band underground pada jaman itu karena keterbatasan sarana dan equipment standard, serta memerlukan waktu dan biaya yang lumayan besar.


Sementara proses mixing materi rekaman Rotten Corpse masih digarap, Adyth dkk kembali menghajar beberapa event metal raksasa, seperti misalnya Underground Siang Bolong [Surabaya], Total Noise [Jakarta], dan PMU #2 [Malang]. Alhasil nama Rotten Corpse semakin mengkilap saja di blantika musik cadas tanah air.


Tepat di akhir tahun 1996, Graveyard Production resmi merilis album Rotten Corpse yang bertitel Maggot Sickness. Di dalamnya berisi delapan lagu yang digarap cukup maksimal, dan sukses menggelontorkan sejumlah singel keren seperti Rotten Solid Brain, Broken Hope, atau Mindless Tentacles. Yah, sebuah masterpiece!...


Respon publik dan pasar metal Indonesia tentunya sangat menggembirakan. Maggot Sickness menjadi album metal yang cukup bersinar di jamannya, dan sempat diklaim oleh seorang jurnalis musik sebagai salah satu dari 20 album rock-lokal yang revolusioner [majalah MTV Trax2, Juli 2004]. Dalam artikel itu juga tertulis, "Album debut mereka yang bertitel 'Maggot Sickness' saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch."


Berbagai media metal-underground juga memberi komentar dan review yang positif. Sebuah fanzine lokal bernama Loudly Press menaruh Maggot Sickness di list pertama dalam rubrik Five Malang Essential Records - dengan kutipan singkat, "...sebuah perjuangan yang sangat tidak pantas untuk dilupakan. Sebuah album untuk semua diehard metalheads!"


Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Aryev Gobel ikut buka mulut lebar-lebar soal rilisan itu, "Maggot Sickness adalah album masterpiece yang pernah dilahirkan oleh praktisi band underground dalam kualitas recording, materi musik, dan artwork. Perpaduan teknik analog dan manual artwork yang orisinal menjadikan album ini benar-benar melegenda."




Perlu diketahui bahwa sampul depan Maggot Sickness itu benar-benar 'asli dan nyata'. Ceritanya dalam sesi foto kover itu kaki Aryev Gobel rela dilumuri cat merah dan saus kental serta diguyur sekantong belatung hidup yang biasa di pakai sebagai pakan burung peliharaan. Hasil fotonya lalu diolah sedikit di komputer dan jadilah salah satu karya sampul album yang paling 'orisinil' di scene metal Indonesia.


Kedahsyatan Maggot Sickness menyeberang hingga ke negara tetangga. Di awal tahun 1997, album itu dirilis kembali oleh Ultra Hingax Prod dan VSP dengan titel Rotten Corpse [self-titled] untuk pasar distribusi Malaysia dan Singapore. Bahkan tiga lagu mereka - Rotten Solid Brain, Sound Bitter, Mindless Tentacles - masih sempat masuk dalam proyek kompilasi Ultra Violence yang diterbitkan oleh Ultra Hingax Prod [2000] di wilayah negeri jiran.


Sayangnya kesuksesan Rotten Corpse tidak lalu dibarengi dengan solidnya hubungan internal di tubuh band. Perlahan muncul keretakan antar personil akibat ego yang berlebih atau benturan kepentingan. Bahkan sejak itu mulai muncul isu-isu tak sedap yang justru datang dari seputar scene mereka sendiri. Agaknya Rotten Corpse sempat kaget dengan popularitas mendadak yang mereka terima. Scene lokal juga tampak belum siap menerima perubahan yang terjadi pada band yang sempat mereka bangga-banggakan itu. Yang muncul kemudian adalah bibit prasangka, iri, curiga, opini negatif, serta vonis yang berlebihan.




"Saya pribadi memang shock berat dengan begitu cepat populernya band ini. Saya jadi dikenal, banyak banget yang berinteraksi baik secara poistif maupun negatif. Tekanan-tekanan menjadi 'artis' pun nyata saya rasakan, baik secara psikologis maupun fisik!" ungkap Aryev Gobel jujur.


Dalam kasus ini, mitos bahwa konflik internal hampir selalu menyertai band yang terlalu cepat sukses mungkin benar adanya. Puncaknya pada pertengahan tahun 1997, Aryev Gobel keluar dari Rotten Corpse. "Kegilaan saya terhadap narkoba tidak dibarengi dengan pemikiran personel lain yang penuh pengertian. Cukup satu vonis, saya adalah pengganggu dan harus keluar dari Rotten Corpse!" aku Aryev Gobel yang lalu memilih bergabung di grupband Santhet sebagai drummer.


Sepeninggal Aryev Gobel, Rotten Corpse terus bertahan. Apalagi tawaran manggung masih datang dari berbagai pentas. Akhirnya posisi vokal diisi oleh Ferry Rinaldi [eks Brain Maggots]. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Wawan dpanggil kembali untuk mengisi ruang gitar yang pernah ia tinggalkan. Rotten Corpse kembali dalam formasi berlima dengan duo gitaris yang gahar.


Pada bulan Juli 1997, Rotten Corpse kembali diundang manggung di kota kembang dalam acara Bandung Berisik #2. Saat itu mereka berangkat tanpa Anton dan Didik yang sedang ujian di kampusnya. Terpaksa dalam konser itu Adyth, Ferry dan Wawan meminta bantuan sahabat mereka yaitu Hendra [drum] dan Ratno [bass] dari grupband Motorhead sebagai additional musicians. Uniknya, tepat seminggu kemudian giliran Adyth yang diajak manggung membantu Motordeath ketika band Bandung itu show di event Hullabaloo #3? .


Sepulang dari Bandung itu sebenarnya sudah tampak sekali kalau pondasi Rotten Corpse mulai retak. Kejenuhan memuncak, konflik internal semakin tajam, dan perang kepentingan terjadi satu sama lain. Adyth selaku mastermind kelompok ini tampak mulai kehilangan akal dalam menyatukan visi bermusik personil lainnya. Bisakah nasib mereka diselamatkan?!...


Hingga pada suatu sore di bulan Agustus 1997, Adyth tiba-tiba mengontak salah seorang editor Mindblast fanzine dengan maksud ingin menyampaikan satu informasi penting. Pertemuan mendadak dilakukan di sebuah warung kopi sederhana dekat markas redaksi Mindblast. Sore itu dia mengaku baru saja melakukan pertemuan internal dengan semua personil band dan mendapatkan satu keputusan penting tentang karir musik mereka.
"Ini berita resmi dari Rotten Corpse, dan kamu orang pertama yang aku kasih tahu ya," kata Adyth dengan mimik wajah serius. "Gini, aku akan balik ke Bandung dalam waktu dekat ini. Mau nerusin studi di sana. Trus soal Rotten Corpse, kita tadi udah sepakat kalo nama Rotten Corpse akan aku bawa serta ke Bandung."


Bagaikan geledek di siang bolong. Berita ini sungguh mengagetkan. Meski sebenarnya sudah lama tercium indikasi ke arah perpecahan Rotten Corpse. Namun tidak ada yang menyangka kalau ternyata skenarionya seperti ini. Adyth mengusung nama Rotten Corpse di Bandung? Sama siapa? Terus bagaimana nasib empat personil lainnya di Malang? Apakah ini bahasa lain dari Rotten Corpse yang memutuskan bubar total?...


"Tenang aja. Rotten Corpse bakal terus eksis kok. Hanya pindah home base aja ke Bandung!" kata Adyth hati-hati seperti tidak ingin menyinggung perasaaan siapapun. Dia bukannya memecat ke-empat personil yang lain. Dalam bahasa yang dia pakai adalah 'meminta Anton dkk untuk mengundurkan diri dari band'. Sebab selaku personil yang menulis hampir semua materi lagu serta mengelola semua urusan karir band, dia merasa yang paling berhak menggunakan nama Rotten Corpse.


"Yah kita liat saja gimana entar jadinya. Sampai di Bandung nanti aku akan langsung cari orang-orang yang mau bantu membentuk Rotten Corpse yang lebih matang dan serius. Lagipula di sana kayaknya lebih menjanjikan untuk maen musik," jelasnya kemudian.


Tidak lama setelah 'konferensi pers' eksklusif tersebut, tepatnya di bulan September 1997, Adyth benar-benar pulang kampung ke Bandung. Di sana ia dibantu oleh para personil Motordeath untuk membangun dinasti Rotten Corpse yang baru. Setelah berlatih singkat di studio, mereka langsung diundang tampil dalam sebuah konser musik cadas di Denpasar, Bali.


Sementara itu di waktu yang bersamaan, sisa personil yang tertinggal di Malang ternyata masih menyatakan diri eksis dan berhak menyandang nama Rotten Corpse. Ferry, Didik, Wawan, dan Anton tetap coba bertahan dalam manajemen Graveyard Production. Mereka juga mulai kembali ke studio dan sempat beberapa kali mengisi gigs lokal yang ada.



Munculnya dua kubu yang berlabelkan Rotten Corpse itu cukup membingungkan masyarakat metal. Pro-kontra mulai merebak luas. Kedua kubu tetap saling klaim dan merasa paling berhak. Panitia acara musik pun bingung musti mengontak Rotten Corpse yang mana?! Saking bingungnya, Mindblast sendiri bahkan memuat artikel berjudul Rotten Corpse satu halaman penuh yang hanya berisi tanda tanya besar [?] tanpa tulisan apapun di edisi ketiganya. Berbagai 'upaya damai' tidak mampu meredakan sengketa dan konflik di antara mereka sendiri.


Namun semua itu berjalan tidak terlalu lama. Adyth tampaknya kesulitan berjuang sendirian dengan brand lawas Rotten Corpse di Bandung. Sementara Anton dkk di Malang seperti kehilangan nahkoda serta agak kewalahan mengelola karir band tanpa sentuhan Adyth. Dan perlahan kedua kubu Rotten Corpse itu tidak pernah ada kabarnya lagi. Selesai sampai di sinikah sejarah Rotten Corpse?! Mmhh, belum tentu...


Di awal tahun 1998 tersiar kabar bahwa Adyth membentuk grupband deathmetal anyar yaitu Disinfected. Kelompok itu diperkuat juga oleh nama-nama paten dari scene metal Ujungberung Bandung, seperti Amenk [eks Embalmed] dan Andris [Burgerkill]. Tidak lama mereka langsung merilis debut album yang bertitel Melted rilisan Extreme Souls Production. Menurut sebagian kawan, album yang mendapatkan respon hangat dari fans metal itu punya nuansa musik khas Rotten Corpse. Sungguh masuk akal, sebab hampir semua materi dasar lagunya memang ditulis oleh Adyth. Bisa dibayangkan kalau Melted adalah 'album kedua dari Rotten Corpse'?!...


Setelah merilis rekaman, nama Disinfected melesat di scene metal Indonesia. Berbagai panggung musik mulai dijajal. Bahkan mereka sempat diundang tampil di kota Malang dalam event bertajuk Malang Metal Fest. Adyth sendiri tampak enjoy bermusik di Disinfected dan mulai melupakan ambisinya mengusung nama Rotten Corpse yang sepertinya sarat 'kutukan'.


Tetapi nama Rotten Corpse sendiri ibarat 'pesugihan' yang selalu dicari sekaligus 'kutukan' yang terus menghantui. Buktinya pada akhir tahun 1998, Aryev Gobel bangkit dan membentuk kembali Rotten Corpse bersama gitaris Mentho [Keramat], bassist Yongki [Suffer In Crease], dan drummer Eko [Keramat]. Setelah ending yang tidak 'happy' di masa sebelumnya, sekuel kedua dari Rotten Corpse tampaknya dimulai dari sini...


Mereka langsung aktif berlatih di studio legendaris Centra, sambil sesekali manggung di sejumlah gigs lokal dan memproduksi beberapa merchandise. Akhirnya Rotten Corpse formasi baru pimpinan Aryev Gobel itu berhasil membuat satu karya nyata. Mereka sempat merilis sebuah singel yang berjudul Awakening untuk salah satu seri kompilasi cadas Brutally Sickness rilisan Extreme Souls Production.


Setelah tampil membuka show Edane di Malang dan mengisi sejumlah gigs lokal dalam rentang tahun 1999-2000, Rotten Corpse sempat dikabarkan akan merilis full-album melalui label Rottrevore records. Namun berita itu tidak pernah menjadi kenyataan. Begitu juga Rotten Corpse seperti berada di persimpangan antara 'ada dan tiada'. Sialan, rupanya 'kutukan' itu masih berlanjut...


"Dengan berat hati, ibarat putus pacaran, saya terpaksa tidak tahu menahu soal band ini. Saya tidak tahu kenapa, Rotten Corpse seperti mengantuk, pengen tidur terus. Sementara konflik-konflik internal pun tidak kunjung berhenti dan akhirnya mematikan band besar ini," tutur Aryev Gobel yang sekarang menjabat vokalis Keramat dan bekerja sebagai desainer grafis di sebuah pabrik rokok di Malang.


Seingat penulis, sejak tahun 2001 nama Rotten Corpse sudah tidak disebut-sebut lagi. Rotten Corpse is dead?! Well, seperti biasa, tidak pernah sekali pun ada pernyataan resmi mengenai keputusan bubarnya Rotten Corpse dari pihak-pihak terkait. Selalu saja misterius. Orang-orangnya masih ada di sekitar, tetapi nama Rotten Corpse perlahan lenyap begitu saja. Sebagian orang yang percaya kutukan berpendapat bahwa mungkin sebaiknya Rotten Corpse tidak usah ada lagi dan biarkan jadi sejarah...


And where is everybody now?!... Adyth saat ini sudah berkeluarga dan bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta. Anton masih bekerja di Malang dan jadi drummer di Silence Is Broken - setelah sempat memperkuat banyak band lokal ; Disintegrate, System Error, sampai Davyjones. Wawan yang pernah main gitar di Adzab, Disaffection dan Antipathy sempat hijrah ke Ukraina bareng pacar bulenya. Didik kabarnya bikin band metal di Nganjuk. Upick sudah berkeluarga dan bekerja di Pandaan. Ferry Rinaldi sudah menikah dan menetap di Pandaan. Yongki berhenti bermusik dan tinggal di Malang. Aryev Gobel, Mentho dan Eko masih main musik bersama di Keramat. Mas Harry tetap di Surabaya, menekuni bisnis sablon dan jadi kolektor metal. They're all kvlt!...


Meski hanya eksis dalam waktu singkat dan dilanda berbagai konflik, setidaknya Rotten Corpse pernah menggoreskan tinta emas dalam sejarah musik metal di Malang, bahkan di Indonesia. Sampai-sampai muncul mitos bahwa hingga hari ini belum ada band metal Malang yang pernah mencapai level seperti Rotten Corpse - yang punya karya musik berkualitas, direspon secara masif, dan sangat menginspirasi banyak orang.


Sampai detik ini, satu-satunya album Maggot Sickness tetap menjadi klasik dan masih diburu dengan harga lumayan tinggi. Beberapa band lokal tercatat masih mengkover lagu-lagunya. Fans dari dalam dan luar negeri masih terus menanyakan stok rekamannya. Album bajakannya bahkan ludes diserbu pembeli. Begitu juga dengan merchandise-nya di pasaran gelap. Organiser show Kolektif Radiasi masih bercita-cita untuk membawa line-up klasik Rotten Corpse ke dalam sebuah konser reuni. Atau memang sudah sepantasnya band ini mendapatkan sebuah tribut khusus...


Penulis yakin mereka yang pernah bersama dan mengalami sejarah dengan band ini akan terus mengenang kejayaan yang singkat itu. Sejarah yang diukir Rotten Corpse akan selalu terasa emosional. Dari sisi yang baik maupun yang buruk. Seperti diungkapkan Aryev Gobel yang sampai rela merajah logo band Rotten Corpse di kulit tubuhnya, "Saya pribadi merasa bangga pernah punya band sedahsyat ini. Sampai mati band ini akan tetap di dada!..."


[Samack]
Foto & Gambar oleh Aryev Gobel [dok.RC] / Boris [dok.Mindblast].


Penulis adalah editor Mindblast [1996-1998] dan mantan roadies Rotten Corpse.
Sumber data dan transkrip diambil dari Mindblast fanzine, Selebaran Gerilya, dan Solidrock. Special thanks to Aryev Gobel for his holy testimony!...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar